Seperti Pagi

terjaga melewati malam

Pertolongan

Kau itu masih manusia, jangan berlagak paling kokoh.

 

Jika kau memang kokoh, tapi mulutmu tidak berhenti merintih

lantas mana patut kau taruh mahkota itu di kepalamu.

 

Kau lemah.

Kita.

Aku.

Semua manusia tidak diciptakan olehNya untuk menanggung seribu beban di atas dua kaki. Semua manusia punya kewajiban berlutut sambil menopang beban-beban menghujam.

 

Pantaskah kau melilit diri sendiri dengan sulur berduri, tapi kau salahkan kaki dan tanganmu?

 

Hei, manusia

tanganmu itu, ulurkan!

Mulutmu itu, panggil namaNya! Panggil manusia-manusia lain. Kami punya dua mata, hanya dua. Kami punya dua telinga, hanya dua. Delapan arah mata angin tak kami jangkau. Maka, panggil! Minta!

 

Kami punya dua kaki, cukupkan melangkah sampai tiba. Sampai tangan kami bisa meraih tanganmu.

 

Jangan kau sombong dengan dua tangan dan dua kakimu. Jangan kau bungkam mulutmu dengan justifikasi tak ingin ku menambah beban. Manusia diutus untuk saling bantu. Berani kau ingkar dengan kodrat itu?

 

Sulitkah untuk bertutur,

 

tolong?

Advertisements

Enkripsi

Mungkin sejak awal, sejak bertahun silam, sudah ada pertanda yang menyatakan berapa lama lagi waktu manusia di bumi.

 

Hari ini terpikir kata demi kata yang diucapkannya.

 

“Gue nggak mau nikah, tapi mau punya anak.”

 

“Pokoknya lo harus nikah ya.”

 

“Jangan ikutin gue pokoknya.”

 

 

Kita, dulu menghabiskan waktu nyaris seharian penuh bersama. Aku menyesal tidak pernah berusaha lebih keras menghiburmu. Ternyata bebanmu berat sekali. Aku menyesal karena pernah berpikir hidupmu tak seburuk itu. Namun penyesalan ini, semakin menjadi, karena pertemuan terakhir kita waktu itu tak diabadikan sebaik mungkin. Aku menyesal sebatas pesan pendek pun selalu urung kukirimkan padamu. Aku menyesal tak pernah berusaha meluangkan waktu barang dua tiga menit untuk memulai percakapan. Aku menyesal menggampangkan waktu, jika kita bisa bertemu nanti, nanti saja, nanti, besok, besok, lusa, minggu depan.

 

Kamu salah satu kawan terbaik yang pernah kumiliki. Kamu mau mendengarkanku, mau menanggapi ucapanku. Menyemangatiku. Menemaniku. Maaf, aku tidak pernah jadi kawan yang baik untukmu. Bahkan bodohnya aku, sempat berpikir mungkin kamu sudah lupa denganku.

 

Hari ini aku berusaha keras menggali ingatanku, mengulang apa saja yang pernah kamu katakan. Mengulang bagaimana wajahmu berganti ekspresi, mengulang bagaimana caramu tertawa, mengulang semua kebodohan yang kita lakukan bersama. Aku semakin menyesal. Aku menyesal tidak menyemangatimu lebih keras waktu itu. Aku menyesal aku tak pernah berusaha lebih keras. Aku menyesal. Aku menyesal. Apakah hari ini, kalau saja situasinya berbeda, aku sempat mengobrol denganmu? Apakah esok, kalau saja kemarin tak terjadi apa-apa, kita sudah menetapkan kapan akan bertemu lagi?

 

Mereka bilang kamu anak nakal.

 

Mereka salah.

 

Orang baik, selalu pergi lebih awal. Kamu pergi terlalu cepat. Maka kamu terlalu baik. Kamu sangat, sangat baik. Kamu lelah kan, menahan sedih, memikul beban? Makanya kamu pulang lebih dulu?

 

Terima kasih sudah menemaniku. Terima kasih sudah membuatku tertawa. Terima kasih atas kegilaan yang menyenangkan. Terima kasih.

 

Kamu teman yang baik, kamu anak yang berbakti, kamu akan lebih bahagia di sana.

 

Nanti, nanti aku, dan kawan-kawan akan menyusulmu. Kita akan menepati janji-janji yang belum sempat terpenuhi. Kamu mau coba apa lagi? Lele goreng? Sashimi yang ternyata kamu tidak suka rasanya? Mie ayam yang mahal tapi porsinya sedikit? Aku akan menemanimu mencoba apapun yang kamu mau.

 

Sekarang, selamat tidur. Biarpun aku ingin sekali bertemu denganmu lagi, aku akan berusaha ikhlas. Biar doaku yang menemuimu. Sesekali, kalau sempat, datanglah ke mimpiku.

 

296502_2022473474116_10340_n

frasa

Aku sering tidak menyelesaikan pergumulan ide, tanpa pemenang mereka kuletakkan di arena. Biar saling beradu, saling mematikan.

 

Jari dan mulutku adalah pasangan pemalas. Kasihan otak dan hatiku yang mengaduh ngilu menambang kata. Bijih emas tak pernah menjadi perhiasan bilamana tempa tak terjadi. Kasihan otak dan hatiku, sampai mereka terkubur di bawah kata imajiner. Jari dan mulutku berfoya-foya, menari-nari, rangkaian katanya dusta tanpa jiwa. Aku, jengah. Mataku lelah meniti huruf. Kasihan otak dan hatiku, mereka bilang ingin pensiun!

 

Gila!

 

Pensiun itu butuh pesangon!

 

Aku tidak bisa memberikan apa-apa pada otak dan hatiku selain beban. Beban. Beban. Beban.

 

Mereka jadi wasit dan juri dalam pergumulan ini.

 

Ide-ide itu kembali di tengah arena. Berjibaku. Mereka ingin menjadi kata. Mereka ingin dituliskan! Ingin dilafalkan!

 

Bangsat kau, jari dan mulut.

 

Bajingan.

 

Memangnya susah, merangkai kata?

d u a

kesempatan

dua kali adalah berkah.

 

dua.

 

kalian berbahagia memandang angka dua

 

lebih dari satu

tambah lagi! Tambah!

 

tahukah kalian, pedihnya menjadi pilihan kedua?

 

dua.

 

suatu hari aku melewati angka dua, kuhitung satu, tiga, empat lima!

hup!

 

kaki menggantung

leherku tercekik.

 

aku bebas.

persekutuan hati berdebu

Tanyakan padaku berapa kali kugadaikan diri atas nama nan agung

cinta?

Ada seribu jelmaan nama

Seribu kali retak, seribu satu penyesalan. Rinai hujan dan tetesan gerimis membasuh

meresap dalam celah

Kata mereka, itu namanya tangis.

 

Jawabkan untukku tentang patah hati, tuturkan logikamu pada mata-mata bertelinga, bermulut, tetapi tidak berhati

Biar kusesap gelas ketiga kopi dini hari, lalu kupikirkan nama-nama dalam cerita, yang berduka. Pun yang tertawa.

Menjelang gelas keempat, aku akan berdiri dan berseru lantang, pada telinga mereka

“Cukupkan retak-retak itu. Air pasang menenggelamkannya! Rapuh digerogoti garam, lenyap!”

 

Tanyakan padaku berapa lama kususun serpihan berdebu

sakit?

Sembilan ratus sembilan puluh sembilan serpihan.

Satu. Terbawa ombak. Tenggelam, terdampar. Peduli setan.

Mencari Teliti

Ibu, Ibu, aku lelah

 

Tertatih bilamana redup mata, tangan-tangan mungil yang terluka

Langkah-langkah tanpa suara, kaki-kaki beralas nama Tuhan

Kami, Ibu, kami masih mencari

 

Ibu, Ibu, kata Ayah aku tak boleh menangis

 

Kelak nama kami bersaing dengan bintang nan tinggi

Kelak namaku, Ibu, nama pemberianmu akan bergema dari kerongkongan mereka

Kami, Ibu, kami tidak pernah dicari

 

Ibu, Ibu, benarkah aku akan jadi orang besar?

 

Ah. Ibu.

Bu, anakmu meminta pada Tuhan, Bu. Ibu yang mengajarkan pada kami.

Bu, anakmu tidak menangis, Bu. Duri-duri ini menggores kaki kami.

Bu, lantas Ibu kenapa menangis?

 

Bu, aku masih mencari

Bu, aku tidak seteliti Ibu

 

Ibu, ibu…

Bu?

 

Ibu, ke mana aku harus pergi?

A N O M A L I

Pada siapa seorang bisu harus mengadu

ketika mereka hanya ingin mendengar?

Anomali dan yang terasingkan,

sekumpulan yang tersisihkan!

Merajuk saja yang memang kuat

karena yang bisu menelan tanpa bersuara

Kungkung kami, wahai matahari!

Kami adalah sejenismu,

hanya

kami bersinar di luar tata surya

Aku dan mereka debu-debu langit

cahaya berbeda warna yang terasing

Aku anomali.

El Dorado

Sungguh jauh untuk meraihnya

Sungguh.

Read the rest of this entry »

Mati

Sahutan petir membungkam rintih dan pekik memohon ampun. Malam masih berbadai, dan si jalang kini merangkak, meninggalkan jejak darah tiap lututnya bergesekan dengan lantai. Lucu, begitulah pikirnya. Ia membandingkan ketika si jalang di siang hari kemarin, ketika si jalang tertawa dengan angkuh. Siang kemarin–biar kalian tahu–si wanita ini, wanita jalang yang terisak kesakitan saat ini, duduk jumawa melipat kaki saat ia–gadis yang menggenggam sebilah belati berdarah dan berjalan sangat pelan mengikuti si jalang–terdiam karena lagi-lagi dijadikan bahan tertawaan.

Pasti si jalang tidak pernah tahu, di balik diamnya si gadis, ada badai bergemuruh.

Hingga ia, si jalang, kini tersapu masuk ke mata badai.

***

Read the rest of this entry »

Merindu

Apa itu “rindu”?

.

.

.

Bagiku, “rindu” adalah senja dengan rintik hujan, adalah jalanan aspal berlubang yang digenangi air. Namun alih-alih menghindari residu hujan bercampur lumpur, yang kulakukan adalah menoleh. Memandangi tempat di mana dahulu–pertama kali–kita duduk berdua. Menghadap satu sama lain. “Rindu” adalah langkah-langkahku yang momentum kecepatannya berkurang, “rindu” adalah kaki-kaki berbalut sepatu yang nyaris terbenam genangan air, “rindu” adalah detik yang semakin hampa.

“Rindu” adalah hampa yang penuh. Penuh dengan seandainya dan kemarin.

.

.

.

Jangan ceritakan padaku, apa “rindu” untukmu.

.

Mengapa?

.

Karena, “rindu” adalah manifesto yang kuciptakan atas realita–kesadaran yang berteriak bahwa merindukan adalah kebodohan.

.

.

.

Kebodohan yang mungkin–mungkin akan terus, terus, dan terus kulakukan.

.

.

Kamu tidak mau kan, dibilang “bodoh”?